Well, ini adalah nukilan yang aku ambil dari facebook mbak karla sendiri. Klik.
Sinopsis yang aku buat lengkap bisa dilihat di bagian post sebelum ini yaaa.
Cekidot.
BAB II
“Damn,” desis Troy saat melihat Gadis yang tiba-tiba muncul dari balik tiang di dekat mobilnya di basemen. Padahal ia sengaja mengambil sendiri mobilnya yang diparkirkan oleh petugas valet saat tiba tadi, untuk menghindari Gadis. Acara telah usai, namun masih banyak rekan kerjanya yang lain berbincang-bincang di lobi hotel. Ia memilih menyelinap pergi tanpa berpamitan untuk menghindari basa-basi lebih lama lagi---sesuatu yang di luar kebiasaan Troy mengingat selama ini ia adalah orang yang sangat luwes bersosialisasi dalam acara-acara seperti ini.
“Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sengaja menghindari aku?” Gadis berdiri di dekat pintu kiri mobil, bersedekap menahan jengkel.
“I have no idea what are you talking about.” Troy membuka mobilnya, lalu masuk.
Melihat itu, dengan sigap Gadis membuka pintu mobil, lalu duduk di samping Troy. Ia sudah mengantisipasi reaksi Troy seperti ini, dan ia sudah bertekad tidak akan membiarkan lelaki itu meninggalkannya sebelum mereka berbicara tuntas.
“What are you doing?” Troy menatap tidak senang.
“Kita belum selesai bicara. Jadi, kamu tidak bisa begitu saja mengesampingkan masalah ini seolah-olah tidak ada yang terjadi.”
Troy menggeram sebal. Dengan sekali injak pedal gas, mobil melesat meninggalkan tempat parkir. Tangan kiri Gadis segera mencengkeram erat pegangan pintu, sementara tangan kanannya yang bebas, menarik sabuk pengaman dan memasangnya dengan cepat. Hanya dalam hitungan menit, Blue Jag itu telah membelah Jalan Thamrin yang mulai lengang menuju arah Sudirman dalam kecepatan tinggi.
“Kenapa sih kamu ngotot gipsi itu sudah melakukan sesuatu kepada kita?” Troy membuka kembali percakapan.
“Kuakui aku memang sempat kaget melihat si gipsi itu, sampai-sampai aku terpengaruh pikiran konyolmu itu.”
“Apa maksudmu terpengaruh pikiran konyolku? Aku tidak pernah punya pikiran konyol,” bantah Gadis. Ia masih hendak bicara, namun segera merapatkan rahangnya saat Troy menyalip di antara dua mobil dengan jarak yang sangat dekat. Sial! Tidak akan ia biarkan Troy tahu kalau cara menyetirnya yang gila-gilaan itu membuatnya ketakutan setengah mati.
“Jadi menurutmu sikap ngototmu itu bukan sesuatu yang konyol?” ejek Troy.
“Itu namanya berpikir kritis. Bukan konyol. Aku tahu kamu sebenarnya peduli pada kejadian ini. Kamu hanya enggan mengakuinya.”
“What a silly accusation.” Troy berdecak geli.
“Mau tahu apa pendapatku soal ini? Menurutku, satu-satunya alasan kamu terus memperpanjang masalah ini karena kamu tidak rela mengakui semua kejadian intim yang pernah kita alami itu cuma mimpi. Kamu ingin kita benar-benar menikah, bukan?”
Sepasang mata Gadis membulat sempurna. “Heh, jangan sembarangan ngomong. Kamu mungkin digilai para groupies tololmu itu, tapi yang jelas, aku masih cukup waras untuk bisa menginginkanmu sebagai suamiku.”
“Lidahmu benar-benar tajam untuk ukuran seorang wanita baik-baik.”
“Dan tingkahmu benar-benar menyedihkan untuk seorang laki-laki yang mengaku gentleman,” balas Gadis tak mau kalah.
“That’s it.” Troy menginjak rem tiba-tiba sehingga Gadis tersuruk ke depan. Beruntung sabuk pengaman yang dipakainya berhasil menahan tubuhnya.
“Keluar,” ujar Troy dingin.
“Apa?! Kamu suruh aku turun di tengah jalan malam-malam begini?!” Gadis menatap Troy tidak percaya. “Dasar brengsek! Lagak kamu saja yang sok gentleman, tapi tingkah kamu persis lelaki yang tidak pernah diajarin cara menghormati wanita.”
“For God’s sake, Gadis!” Troy mencengkeram kemudi mobilnya dengan gemas. “Siapa bilang aku menurunkan kamu di tengah jalan? Apa perlu aku menggendongmu sampai ke depan pintu rumahmu untuk membuktikan kalau aku tidak sekejam yang kamu kira?”
“Tentu saja tidak perlu! Dan jangan pernah sekali-lagi berpikir untuk membopong aku,” ancam Gadis. “Aku bahkan tidak sudi membiarkan ujung jarimu menyentuh aku.”
“Fine. Kalau begitu keluar sekarang.”
“Kamu benar-benar akan meninggalkan aku di tengah jalan sepi yang…” Gadis menoleh ke sekeliling mereka untuk mencari deskripsi yang tepat, tapi ia justru tertegun, “…lho, kita sudah sampai di depan rumahku?”
Troy berdecak tak sabar. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa begitu fokus pada emosinya sehingga tidak menyadari sekelilingnya?
“Tapi bagaimana kamu bisa tahu rumahku? Kamu belum pernah ke sini sebelumnya,” tanya Gadis kembali.
Troy mati kutu.
Gadis menatap Troy penuh selidik, lalu berkata lambat-lambat, “Jadi, kamu tahu karena dalam kejadian aneh itu kamu sudah berkali-kali datang ke rumahku. Begitu, kan? Nah, apa sekarang kamu masih ngotot mau bilang kalau kejadian itu bukan apa-apa?”
“Tentu.” Troy mengangguk tegas. “Bukan hal aneh kalau seseorang bisa tahu sesuatu lewat mimpi. Para seniman dan ilmuwan sering mendapatkan ide dengan cara seperti itu. Jadi, tidak ada yang aneh kalau aku tahu rumahmu karena aku masih mengingat dari mimpi yang kita alami bersama itu.” “Baiklah,” desah Gadis pada akhirnya. “Ini seperti bicara ke tembok. Percuma.”
“Tembok? Apa tembok bisa melakukan ini?” Troy meraih wajah Gadis dengan cepat untuk menciumnya.
Gadis berkelit sambil memprotes marah. Bibir Troy jatuh ke pundaknya yang terbuka, meninggalkan jejak panas di sana. “Kamu tuh sudah sinting ya? Ini kedua kalinya kamu mencoba menciumku hari ini, dan aku benar-benar marah kali ini!”
Troy menarik dirinya menjauhi Gadis. Ia terkekeh puas. “Santai saja,” ujarnya di ujung tawanya. “Aku tidak pernah memaksa wanita untuk menciumku. Kalau seorang wanita menciumku, itu karena mereka menginginkannya. Aku cuma ingin menunjukkan kalau aku sama sekali tidak mirip tembok, seperti kesimpulanmu itu.”
“Sebaiknya aku keluar dari mobil ini sebelum ikutan sinting.” Gadis membuka pintu mobil dengan gemas, lalu bergegas keluar.
Sebelum mobilnya bergerak maju, Troy berteriak ke Gadis yang tampak sudah melangkah masuk ke halaman rumahnya. “Remember, Gadis, that dream means nothing to me!”
“Aku tidak peduli pendapatmu! Aku yakin ada sesuatu yang aneh dari mimpi itu, dan aku akan mencari tahu!” balas Gadis bersamaan dengan Blue Jag milik Troy melesat pergi dari hadapannya....
*******************
Yah begitulah sekilas nukilan novel Karla M Nashar. Depet beli bukunya yaaaaa. Nggak nyesel deh bacanya :p
No comments:
Post a Comment